Beginilah Caranya Menjual Produk Dengan Memahami Pikiran Manusia

Menjual ribuan produk setiap tahunnya dan mencapai angka milyaran untuk setiap income yang masuk untuk bisnis kita mungkin menjadi sasaran paling diimpikan. Mendapatkan pelanggan gres yang lebih banyak, membuat pelanggan lama datang lagi dan lagi pun masih menjadi tujuan dari jadwal sebuah bisnis. Berbagai cara dan tools sudah dicoba untuk mendukung kegiatan marketing setiap bisnis. Terkadang tanpa disadari sebagai penjual kita lupa bahwa kita menjual produk atau layanan yang kita miliki kepada seorang insan bukan robot. Hingga tools dari banyak sekali software tercanggih pun masih dirasa kurang untuk mencapai sasaran yang sudah dibuat, yaitu mendapatkan banyak pelanggan gres dan menciptakan pelanggan usang tiba lagi.

Memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan pelanggan sama halnya dengan memahami pikiran mereka. Sebab kita menjual produk kepada seorang insan, sehingga kitapun harus sanggup memahami apa yang insan pikirkan bukan?

Nah, berikut ini penjelasannya:

Mungkin Anda pernah mendengar istilah ini “EMOSI bermain peran terhadap keputusan pembelian”. Bahkan sebuah survey sudah membuktikan bahwa keputusan pembelian didasarkan pada 20% LOGIC dan 80% EMOSI. fMRI(Functional Magnetic Resonance Imaging) yang melakukan penilaian terhadap sebuah merek, menemukan bahwa konsumen cenderung memakai emosi mereka daripada info yang mereka baca.

Apa yang membedakan emosi dan berita yang diterima dan diolah pelanggan?

EMOSI yaitu perasaan pribadi dan pengalaman pribadi seseorang(customer).

INFORMASI yakni atribut sebuah merek, fitur dan fakta yang ingin ditunjukkan kepada customer.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Advertising Research Foundation menyimpulkan: Emosi digunakan untuk memprediksi sebuah iklan yang sanggup meningkatkan penjualan suatu merek.

Respon emosional pun muncul pada iklan yang lebih kuat pada niat konsumen untuk membeli produk dari sebuah iklan, dimana:

* 3 orang menyukai iklan di televisi

* 2 orang menyukai iklan di media cetak

Bahkan tahukah Anda?

Emosi positif seseorang terhadap sebuah mereka memiliki dampak yang lebih besar terhadap loyalitas konsumen, termasuk tingkat kepercayaan dan penilaian lain yang didasarkan pada merek tersebut. Emosi yakni alasan utama mengapa konsumen lebih memilih merek sebuah produk, dan nama merek ini akan masuk ke kepingan emosional otak kanan.

Bias umum yang juga mempengaruhi keputusan pembelian

Ada beberapa bias yang dipakai untuk memudahkan para pebisnis dalam memasarkan produk mereka. Seperti:

1. The Framing Effect Bias

  • Setiap orang akan bereaksi terhadap pilihan yang dimiliki, dengan cara yang berbeda. Tergantung pada bagaimana pilihan itu dibingkai dan diterima oleh customer.
  • Orang cenderung untuk berani mengambil resiko dikala pilihan yang disajikan memperlihatkan dampak yang aktual. Tapi mereka akan mereka akan lebih banyak melihat kemungkinan resiko terhadap pilihan yang disajikan untuk dampak negatif suatu merek.

MARKETING TAKEAWAY:

  • Ketika Anda membuat penawaran untuk pelanggan, bingkailah penawaran itu dengan cara yang membuat mereka ingin membelinya.
  • Munculkan manfaat dari produk atau jasa Anda, sesudah itu kita bisa menyebutkan harga dan fitur. Sebab itu tidak terlalu menarik bagi mereka.

2. The Ingroup Bias

  • Setiap orang ingin menjalin sebuah persahabatan dan menjadi pecahan dari sebuah kelompok
  • Membeli sebuah merek premium atau glamor sanggup membuat orang merasa seolah-olah menjadi potongan dari para penikmat gaya hidup premium.
  • Setiap orang sering menetapkan banyak nilai di dalam pikiran mereka dan pendapat dari orang yang dekat dengan mereka. Dan tentu saja mereka akan mengabaikan nilai atau pendapat dari orang abstrak.

MARKETING TAKEAWAY:

  • Tulislah konten yang sesuai dengan kelompok yang menjadi sasaran atau sasaran Anda
  • Gunakan kata “Kalian, Kami, Mereka” untuk menarik perhatian setiap orang yang ada di dalam suatu kelompok tertentu.

3. Status Quo Bias

  • Orang cenderung lebih suka menghindari perubahan dan lebih memilih untuk tetap pada apa yang mereka sukai atau apapun yang membuat mereka merasa kondusif.
  • Mereka pun tidak akan dengan simpel berpindah alasannya adalah ialah mereka ingin menghindari kerumitan untuk melaksanakan perubahan.
  • Pertimbangkan untuk memperlihatkan penawaran sebelum mereka membeli, misalnya “Trial Gratis 1 bulan”

MARKETING TAKEAWAY:

  • Jangan memaksa perubahan pada pelanggan Anda, kecuali memang benar-benar dibutuhkan
  • Biarkan pelanggan Anda membuat keputusan sesedikit mungkin. Sebab, dikala pemilihan keputusan terlalu banyak, ini akan membuat pelanggan resah dan langsung meninggalkan pembelian potensial itu.

4. The Anchoring Bias

  • Jika pelanggan diberi penawaran satu produk, mereka biasanya akan membandingkan dengan sesuatu yang lain untuk mencaritahu pembeda dan menemukan nilainya.

MARKETING TAKEAWAY:

  • Produk pertama yang dilihat oleh pelanggan biasanya akan dijadikan sebagai jangkar, yang akan sangat kuat
  • Buatlah daftar item produk termahal Anda di penggalan pertama. Dengan cara ini, produk yang tersisa akan terlihat seperti barang murah.

5. The Loss Aversion Bias

  • Tidak ada yang menyukai kehilangan bukan?
  • Banyak konsumen yang mencoba bertahan pada suatu produk atau layanan, jikalau kesempatan itu mungkin menjadi kesempatan yang terakhir.

MARKETING TAKEAWAY:

  • Tawarkan produk atau layanan dengan menggunakan batas waktu. Misalnya dengan menggunakan kalimat “Hari terakhir!”, “Beli satu GRATIS satu, hanya untuk hari ini saja!”

Inilah beberapa bias yang bisa digunakan untuk mengkonversi lebih banyak pelanggan dengan membaca pikiran mereka. Kita tahu bahwa kita menjual produk atau layanan kepada insan. Sehingga pedoman mereka, penilaian merekalah yang menjadi dasar dari kesuksesan suatu kegiatan promo penjualan.

Psikologi penjualan ini sanggup membantu siapa saja untuk mengetahui apa yang dipikirkan pelanggan mereka dan apa yang harus dilakukan biar konversi penjualan terus meningkat, dari pelanggan gres ataupun pelanggan usang yang tiba lagi dan lagi.

Tinggalkan komentar