Bagaimana Mengendalikan Emosi Ketika Bekerja

Ketika bekerja / berbisnis, kita pasti seringkali merasakan emosi-emosi konkret menyerupai ibarat kegembiraan, rasa syukur, dan sukacita. Namun di suatu kondisi, tidak jarang pula kita merasa takut, marah, murung, tertekan dan emosi-emosi negatif lainnya. Maka, di sinilah kita perlu mengembangkan sebuah manajemen emosi yang baik untuk menghalau emosi-emosi negatif seperti ini semoga tidak menghalangi profesionalisme kita.

Karena suatu ketika kita niscaya akan dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai dengan impian.

Jika Anda merasa takut.

Berhenti sejenak dan lihat situasi secara objektif. Tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah bisnis atau karir saya sedang dipertaruhkan?” Jika tidak, maka Anda mungkin hanya merasa gugup dan kurang percaya diri saja.

Atau jikalau Anda memang dihadapkan pada situasi yang benar-benar serius, lakukan beberapa hal yang bisa menjernihkan pikiran, menyerupai berjalan-jalan atau meminum kopi atau teh. Dan ketika anda kembali, pastikan bahwa anda sudah siap bereaksi dengan situasi yang anda hadapi dikala ini.

Bayangkan pekerjaan sebagai sebuah roller coaster. Yang perlu anda lakukan ialah enjoy the ride. Anda harus memiliki iman bahwa anda dapat merampungkan setiap duduk persoalan yang anda hadapi.

Jika Anda merasa ditolak.

Jika anda merasa tidak mempunyai dilema dengan orang lain yang menolak kehadiran anda, satu-satunya cara untuk mengetahui akar masalahnya yaitu dengan bertanya pada penolak anda. Tanyakan sesuatu seperti: “Beberapa hari yang kemudian, kau menyampaikan ____ dan saya merasa sakit hati. Dapatkah kamu menjelaskan apa yang terjadi?.”

Pada kesudahannya, kita akan menyadari dalam arti yang sangat faktual bahwa “penolakan” yakni delusi. Penolakan hampir selalu berasal dari perbedaan dalam “aturan” orang dalam menafsirkan sebuah kejadian. Mungkin anda “ditolak” karena orang lain mempunyai hukum yang berbeda.

Jadi, di mana sengatannya?

Jika Anda merasa murka.

Tugas pertama anda ialah menjauh dari situasi yang menyulut amarah anda. Jika anda bisa, pergi dan berjalan-jalan, atau melakukan sesuatu yang akan mengalihkan perhatian anda sejenak. Jika Anda tidak dapat mengambil salah satu tindakan tadi, tarik nafas perlahan jernihkan pikiran. Ketika anda sudah lebih hening, selidiki alasan kenapa anda murka. Dari pada “meledakkan” atau “melepaskan uap”, mencari cara untuk berkomunikasi dengan orang lain lebih penting semoga situasi yang sama tidak terulang kembali di masa depan.

Jika Anda merasa frustrasi.

Di kawasan kerja, emosi ini muncul ketika anda merasa bahwa hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan cita-cita, terutama kalau melihat jumlah pekerjaan dan usaha yang telah anda keluarkan. Anda tahu tujuan anda mampu dicapai, tapi sepertinya tujuan tersebut selalu ada di luar jangkauan.

Langkah pertama yang sanggup anda lakukan ialah meninjau kembali rencana dan perilaku anda. Apakah anda sudah benar-benar melakukan cara terbaik untuk mencapai tujuan anda? Jika tidak, rasa frustrasi akan memberitahu anda bahwa anda perlu mengubah planning dan eksekusinya. Sedangkan bila rencana anda sudah kuat dan sikap anda sudah sempurna, maka kini saatnya untuk melatih kesabaran. Berhentilah mengkhawatirkan perihal hasil. Serahkan hasilnya pada Yang Maha Kuasa. Tugas anda ialah terus berusaha untuk mencapai tujuan.

Jika Anda merasa tidak mumpuni.

Mungkin sekarang anda membisu-diam merasa khawatir setelah mengukur sampai mana kemampuan anda, apakah anda siap untuk menghadapi tantangan di masa depan. Hal yang indah perihal emosi ini yaitu bahwa emosi ini paling praktis untuk ditangani. Rasa tidak bisa berasal dari kurangnya keterampilan, pengalaman, dan seni manajemen di mana anda ingin menjadi sukses. Makanya, putuskan bahwa anda akan bekerja di bidang ini hingga anda benar-benar menguasainya. Dan cari contoh ketika anda tengah melaksanakan kiprah ini. Misalnya panutan, mentor, baca buku atau ikut seminar.

Jika Anda merasa stres.

Dunia bisnis kini mengajukan tuntutan yang luar biasa pada energi dan waktu pelakunya. Entah apakah Anda seorang pengusaha, eksekutif, manajer, atau seorang pekerja, Anda terus-menerus dituntut untuk berbuat banyak bagi pekerjaan anda. Meski begitu, anda dibatasi oleh batas-batas ruang dan waktu. Anda punya waktu yang terbatas untuk merampungkan sesuatu sekaligus menjaga diri tetap sehat dan senang pada ketika yang sama. Makanya, hindari rasa stress. Cara terbaik untuk menangani stres yakni menggunakan stres sebagai sinyal bahwa sudah waktunya untuk menciptakan prioritas. Mana yang penting untuk diselesaikan biar tidak mendesak di belakang.

Semoga bermanfaat 😉

Tinggalkan komentar